Bukan Sekadar Jabatan: Mengapa Kepemimpinan Adalah Soal Dampak, Bukan Kartu Nama

 

Bukan Sekadar Jabatan: Mengapa Kepemimpinan Adalah Soal Dampak, Bukan Kartu Nama


Penulis: Alya sahpitri mahasiswa Prodi Manajemen, Fakultas ekonomi dan bisnis, Universitas Bangka Belitung


​OPINI – Banyak sekali orang keliru menganggap bahwa kantor yang luas, deretan gelar di belakang nama, atau tanda tangan di atas surat itu keputusan adalah bukti bahwa mereka telah menjadi seorang pemimpin. Padahal, realita yang di lapangan berulang kali membuktikan hal yang sebaliknya: jabatan hanyalah sebuah izin administratif, bukan jaminan kompetensi.


​Jika kepemimpinan hanya soal kursi kekuasaan, maka kita sedang membicarakan birokrasi, bukan inspirasi. Sebab, , kepemimpinan bukanlah tentang siapa yang berada di puncak, melainkan tentang seberapa besar dampak yang diberikan ketika nama dan jabatan itu ditanggalkan.


​Otoritas versus Pengaruh

Ada perbedaan mendasar antara kepatuhan dan kesetiaan. Sebenarnya yang datang dari jabatan mungkin bisa memaksa seseorang untuk datang tepat waktu atau menyelesaikan laporan sesuai tenggat, namun tidak akan pernah bisa memesan kreativitas, antusiasme, apalagi pengabdian. Ketika seorang pemimpin hanya mengandalkan "tongkat" jabatannya, ia sebenarnya sedang membangun menara di atas sebutir pasir ; goyah dan mudah runtuh saat masalah melanda. 


​Sebaliknya, pemimpin sejati bekerja dengan "tongkat sakti" pengaruh. Pengaruh tidak didapatkan melalui surat pelantikan, melainkan ditabung lewat konsisten,empati, dan integritas dalam interaksi sehari-hari. Pemimpin yang berpengaruh tidak perlu berteriak untuk didengar, karena timnya mengikuti mereka, bukan karena takut akan sanksi, melainkan karena percaya pada visi yang dibawa.


​Ujian di Tengah Badai

Krisis adalah filter alami bagi kepemimpinan. Di masa tenang, siapa pun bisa terlihat seperti pemimpin hebat dengan hanya membaca laporan pertumbuhan di atas kertas. Namun, ketika krisis melanda, entah itu krisis ekonomi atau disrupsi organisasi. Gelar di kartu nama sering kali kehilangan daya kekuatannya. Di titik inilah, tim tidak mencari siapa yang memiliki meja paling besar, melainkan siapa yang memiliki ketenangan dan arah.


​Pemimpin yang hanya mengandalkan jabatan cenderung sibuk mencari kambing hitam untuk menyelamatkan posisinya. Sebaliknya, pemimpin yang fokus pada dampak akan berdiri di garis depan sebagai tembok yang kuat bagi timnya. Pada akhirnya krisis tidak membentuk karakter pemimpin, tetapi mengungkapkannya. 


​Membalik Piramida

Kesalahan fatal , banyak pemimpin yang merasa bahwa tim ada untuk melayani kepentingan mereka. Padahal, pemimpin yang efektif justru bekerja sebaliknya: ia ada untuk melayani timnya. 


​Ia adalah sosok yang bersedia menjadi jembatan bagi kesuksesan orang lain, menghapus hambatan, dan sering kali memberikan panggung keberhasilan kepada anggota timnya sementara ia sendiri tetap di belakang layar. Kesuksesan bagi pemimpin bukan lagi tentang pencapaian pribadi, melainkan tentang berapa banyak pemimpin baru yang berhasil di cetak.


Sebagai penutup, kita perlu merenungkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah perjalanan dari "aku" menuju "kita". Jabatan itu sementara, memiliki masa berlaku dan bisa dicabut kapan saja oleh sebuah kertas. Namun, pengaruh dan dampak yang ditanamkan dalam jiwa orang lain akan tetap hidup jauh setelah meninggalkan kursi kekuasaan.


​Jangan terlalu bangga dengan kursi yang Anda duduki hari ini jika kehadiran Anda tidak membawa perubahan bagi orang di sekitar Anda. Berhentilah sekadar menjadi "bos" yang mengandalkan instruksi, dan mulailah menjadi pemimpin yang meninggalkan jejak makna. Karena pada akhirnya, dunia tidak akan mengingat jabatan Anda, tetapi dunia akan mengenang bagaimana Anda membuat mereka menjadi lebih baik.***

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak