Sudah Ganti 3 Provider Internet, Baru Sekarang Saya Tenang Pakai Megavision

Sudah Ganti 3 Provider Internet, Baru Sekarang Saya Tenang Pakai Megavision
Gambar hanya ilustrasi


Oleh: Riani Kusumawati | Ibu Rumah Tangga, Bandung

KitaNKRI.com Kalau ada yang bilang, "internet di rumah itu urusan suami," saya mau bilang: itu salah besar. Justru saya—yang ada di rumah sepanjang hari, yang ngurusin anak sekolah online, yang belanja kebutuhan dapur lewat marketplace, yang sesekali kerja sambilan sebagai reseller online—saya lah yang paling merasakan langsung dampaknya kalau internet di rumah ngadat.

 

Dan percaya atau tidak, saya sudah mencicipi tiga provider berbeda sebelum akhirnya tiba di pilihan yang sekarang: Megavision.

Awal Mula: IndiHome, Pilihan Default yang "Aman"

Waktu pertama kali pindah ke rumah sekarang di daerah Arcamanik, Bandung, pilihan internet kami jatuh ke IndiHome. Bukan karena riset mendalam—lebih karena itu satu-satunya yang saat itu kami kenal. Semua orang pakai IndiHome, tetangga pakai IndiHome, jadi ya kami ikut.

 

Paket pertama kami adalah 10 Mbps seharga sekitar Rp 275.000 per bulan, termasuk paket TV kabel. Di awal, rasanya cukup. Anak-anak bisa nonton YouTube, saya bisa WhatsApp-an, suami bisa kerja dari rumah sesekali.

 

Masalah mulai terasa setelah sekitar delapan bulan.

 

Pertama, soal kestabilan. Saya perhatikan setiap sore—terutama jam 4 hingga 8 malam—internet terasa seperti mati suri. Loading lambat, video buffering terus-terusan. Saya baru tahu belakangan ini namanya "peak hour," di mana banyak pengguna satu jaringan yang aktif bersamaan sehingga bandwidth terbagi.

 

Kedua, soal tagihan. Ada bulan di mana tagihan IndiHome tiba-tiba naik tanpa pemberitahuan yang jelas. Waktu saya tanya ke CS-nya, jawabannya berputar-putar soal kebijakan penyesuaian harga. Tidak memuaskan sama sekali.

 

Ketiga—dan ini yang paling bikin frustrasi—soal layanan gangguan. Pernah suatu ketika internet mati total selama hampir tiga hari. Laporan pertama ke 147 dijawab dengan estimasi perbaikan 1x24 jam. Jam berlalu, hari berganti, tidak ada teknisi yang datang. Laporan kedua, dijawab ulang dengan estimasi yang sama. Baru laporan ketiga barulah teknisi datang—dan masalahnya ternyata ada di kabel optik yang putus di luar rumah, sesuatu yang mestinya bisa diperbaiki lebih cepat.

Pindah ke MyRepublic: Lebih Mahal, Tapi...

Setelah kontrak IndiHome habis, saya dan suami sepakat untuk mencoba MyRepublic yang saat itu lagi gencar promosi di daerah kami. Klaimnya menarik: jaringan fiber optik murni, no port throttling, dan kecepatan lebih stabil.

 

Kami ambil paket 50 Mbps seharga sekitar Rp 350.000 per bulan.

 

Jujur, di bulan pertama dan kedua, saya cukup terkesan. Internet memang terasa lebih kencang. Upload foto produk ke marketplace jauh lebih cepat. Video call dengan keluarga di Surabaya tidak lagi patah-patah.

 

Tapi kemudian masalah lain muncul.

 

Coverage dan stabilitas perangkat. Router bawaan MyRepublic menurut saya kurang bagus jangkauannya. Di kamar belakang dan dapur, sinyal WiFi sudah sangat lemah. Padahal rumah kami tidak terlalu besar. Kami akhirnya beli router tambahan sendiri, yang artinya biaya ekstra lagi.

 

Layanan pelanggan yang susah dihubungi. Ini keluhan yang saya baca juga dari banyak pengguna lain di grup Facebook komunitas Bandung. Waktu saya ada masalah koneksi, menghubungi CS MyRepublic rasanya seperti melempar pesan ke laut. Respon lambat, solusi yang diberikan sering kali hanya "coba restart router."

 

Harga yang naik di tahun kedua. Setelah periode promo berakhir, harga bergeser naik cukup signifikan. Saya merasa tidak ada nilai tambah yang sepadan dengan kenaikan tersebut.

Sempat Mencoba Iconnet: Murah, Tapi Ada Harganya

Di sela-sela ketidakpuasan dengan MyRepublic, ada tetangga yang menyarankan Iconnet—provider dari PLN yang waktu itu lagi ekspansi besar-besaran ke perumahan. Harganya memang sangat terjangkau, sekitar Rp 175.000 per bulan untuk 20 Mbps.

 

Saya sempat tertarik dan mencoba registrasi, tapi akhirnya tidak jadi karena beberapa pertimbangan:

 

Pertama, coverage Iconnet di area kami saat itu belum stabil—ada titik-titik tertentu di perumahan yang sinyal optiknya belum masuk. Tetangga yang sudah lebih dulu daftar cerita bahwa proses instalasi mundur berkali-kali.

 

Kedua, saya baca banyak ulasan dari kota-kota lain soal kestabilan koneksi Iconnet yang masih inkonsisten, terutama di malam hari. Untuk harga murah, mungkin bisa dimaklumi—tapi kebutuhan internet rumah kami tidak bisa main-main, terutama karena anak pertama saya sudah SMP dan sangat mengandalkan internet untuk tugas sekolah dan les online.

 

Jadi Iconnet saya skip.

Ketemu Megavision: Referensi dari Tetangga yang Sudah Pakai Duluan

Perkenalan saya dengan Megavision tidak datang dari iklan atau brosur. Datang dari obrolan di grup WhatsApp ibu-ibu RT kami.

 

Salah satu tetangga—Bu Dewi, yang suaminya kerja dari rumah full time—bercerita kalau dia baru pasang Megavision dan sudah dua bulan tidak ada masalah sama sekali. Saya yang awalnya skeptis akhirnya mulai riset sendiri.

 

Yang pertama saya cari tahu: apakah Megavision sudah masuk ke area kami? Ternyata sudah. Dan proses pendaftarannya relatif mudah—bisa langsung hubungi CS atau melalui nomor yang tertera di website.

Proses Instalasi yang Rapi

Instalasi Megavision di rumah kami dilakukan oleh dua orang teknisi. Mereka datang tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan—sesuatu yang terdengar sederhana tapi sangat saya apresiasi setelah pengalaman menunggu teknisi IndiHome yang tidak pasti.

 

Prosesnya selesai dalam sekitar satu setengah jam. Teknisi juga menjelaskan cara restart router, cara cek kecepatan, dan nomor yang bisa dihubungi kalau ada masalah. Tidak ada kabel yang sembarangan ditempel, semuanya terlihat rapi.

Koneksi yang Stabil—Bahkan di Jam Sibuk

Ini yang paling saya rasakan bedanya dengan IndiHome: Megavision tidak drop signifikan di peak hour.

 

Saya memang bukan orang teknis, tapi saya tahu bagaimana rasanya internet lambat dibandingkan internet yang lancar. Sekarang, jam 5 sore pun—waktu anak-anak pulang sekolah dan langsung buka YouTube, sementara saya live stream jualan di TikTok—semuanya bisa berjalan bersamaan tanpa masalah.

 

Saya sempat iseng cek kecepatan lewat Speedtest di beberapa waktu berbeda. Hasilnya konsisten—tidak ada penurunan dramatis di malam hari.

Harga yang Transparan

Salah satu hal yang saya syukuri dari Megavision adalah tidak ada biaya tersembunyi atau kejutan tagihan. Tagihan yang saya bayar setiap bulan sama dengan yang tertera di perjanjian awal. Tidak ada penyesuaian harga mendadak yang tidak dikomunikasikan terlebih dahulu.

 

Untuk seorang ibu rumah tangga yang mengelola keuangan keluarga, kepastian ini bukan hal kecil.

Layanan Pelanggan yang Responsif

Sejauh ini saya baru satu kali menghubungi CS Megavision—bukan karena masalah besar, tapi saya mau tanya soal upgrade paket. Responnya cepat, informasinya jelas, dan tidak ada kesan "dilempar-lempar" ke divisi lain seperti yang sering saya alami dengan provider sebelumnya.

Apa yang Saya Pelajari Setelah Berganti-Ganti Provider

Kalau saya boleh rangkum pengalaman panjang ini menjadi beberapa poin:

 

1. Harga murah bukan jaminan nilai terbaik. Saya dulu terlalu fokus mencari paket paling murah, padahal internet yang sering gangguan itu juga punya "biaya tersembunyi" dalam bentuk waktu terbuang, stres, dan produktivitas yang hilang.

 

2. Layanan purna jual sama pentingnya dengan kecepatan. Kecepatan 100 Mbps tidak ada artinya kalau ketika gangguan, tidak ada yang bisa dihubungi atau tidak ada yang serius menangani.

 

3. Jaringan lokal yang kuat lebih penting dari nama besar. Megavision mungkin bukan nama yang sepopuler IndiHome secara nasional, tapi di area kami, jaringan mereka ternyata lebih solid dan coverage-nya lebih merata.

 

4. Pengalaman orang sekitar adalah data terbaik. Referensi dari Bu Dewi di grup RT ternyata lebih akurat dari semua brosur dan iklan yang pernah saya baca.

Penutup

Saya bukan tipe yang suka ribet gonta-ganti provider. Justru karena itu, saya berharap dari awal sudah kenal Megavision duluan—bisa hemat waktu, hemat uang, dan hemat drama.

 

Sekarang, internet di rumah kami sudah stabil. Anak-anak bisa belajar online tanpa gangguan, saya bisa jualan online tanpa khawatir tiba-tiba putus di tengah live, dan suami bisa meeting dari rumah tanpa malu karena koneksi byar-pet.

 

Kalau kamu juga lagi bosan dengan provider lama dan sedang mempertimbangkan pilihan baru di Bandung dan sekitarnya, Megavision layak banget masuk daftar pertimbanganmu. Buat saya, ini bukan sekadar pilihan—ini keputusan yang saya sesali kenapa tidak dari dulu.


Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis sebagai pengguna aktif layanan internet rumah di Bandung.


Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak